|
Menu Close Menu

Mengunjungi Gamelan Galleri Waditra di Cimahi, Tempat Pembuatan Alat Musik Tradisional Sunda Artikel ini telah tayang di tribunjabar.id dengan judul Mengunjungi Gamelan Galleri Waditra di Cimahi, Tempat Pembuatan Alat Musik Tradisional Sunda

Kamis, 15 November 2018 | November 15, 2018 WIB
CIMAHI - Tampilan tempatnya terkesan seadanya, namun Gamelan Galleri Waditra di Jalan Amir Machmud Nomor 643, Kota Cimahi, bukanlah amatiran. Alat-alat musik tradisional khas Sunda yang dibuat di toko itu pun telah menjamah ke mancanegara.
Sekilas aktivitas di halaman toko yang disangga empat tiang bambu dan berlapiskan terpal berwarna biru itu sepi pengunjung. Hanya dua orang pria terlihat sibuk mengerjakan pembuatan seruling dan mengecat tiang yang difungsikan untuk gamelan.


Suara tiupan seruling pun sesekali terdengar mengalun lembut saat proses pembuatan alat musik itu. Seolah membius kebisinginan di hadapan jalan raya tempat lalu lalang kendaraan.

Darah seni mengalir pada diri owner Gamelan Galleri Waditra, Agus Sunandar alias Suge (32), dari orangtuanya yang juga merupakan seorang pengrajin alat musik tradisional Sunda di wilayah Cimahi.

"Basic saya adalah seniman. Bapak saya juga dulunya memproduksi alat musik tradisional," ujar Suge, di tempat usahanya, Kota Cimahi, Rabu (14/13/2018).

Suge menceritakan pemberian nama Waditra merupakan diambil dari istilah bahasa Sunda yang berarti sebutan untuk alat-alat musik tradisional Sunda.

Di awal kiprahnya, Waditra yang lahir sejak beberapa tahun itu membuat hampir seluruh jenis alat musik tradisional khas Sunda. Semisal gamelan, kecapi, seruling, gendang, calung, angklung, rebab, dan lain-lainnya.

"Harga yang ditawarkan mulai dari Rp.3 ribu untuk seruling sampai dengan harga termahal Rp 250 juta juga ada," ujar alumni sekolah menengah kejuruan negeri rumpun seni pertunjukan pertama di Provinsi Jawa Barat, SMK Negeri 10 Bandung itu.

Suge mengaku walaupun tergolong baru usaha alat musik tradisional dan kini sangat langka di Kota Cimahi sudah dipesan dari berbagai provinsi di Indonesia bahkan luar negeri.

"Yang beli langganan sudah banyak. Untuk Jabar sudah menyeluruh. Di Riau, Bali, dan hampir seluruh daerah. Yang belum pernah ke Papua. Juga sudah sampai ke Inggris, Australia, Perancis, Belanda, China," ujar Suge.
Pria lulusan Sastra Sunda Universitas Padjadjaran (Unpad) ini mengatakan awal merintis usaha tersebut dengan berbekal modal Rp 2 juta. Kini ia telah mengembangkan usahanya ke beberapa wilayah di Purwakarta dan Bandung.

"Saya juga memasarkan usaha ini melalui online karena teknologi sekarang tuntutan jadi saya juga mencoba melalui itu," kata Suge.
Suge menuturkan pembuatan alat musik yang membutuhkan waktu paling lama adalah gendang. Menurutnya, faktor pengolahan kayu, menunggu kering dan pengolahan kulit juga memakan waktu cukup lama.

"Karena belum ada alat khusus. Jadi memang full hand made. Butuh waktu sekitar enam bulan membuat gamelan berbahan perunggu. Yang paling cepat membuat seruling," ujarnya seraya mengaku bisa memainkan semua alat-alat musik hasil produksinya tersebut.
Suge kini bersyukur berkesempatan dijadikan mitra binaan dari sebuah perusahaan ternama bahkan yang memesan dari tokoh penting dan seniman. Ia berharap, ke depannya usaha kesenian tradisional bisa hidup dan berpengaruh kepada alat-alat musik yang digunakan untuk menghasilkan karya seni.
Bagikan:

Komentar